tim kami

tim kami

Monika

direktur

Monika adalah lulusan arsitektur dari Universitas Sam Ratulangi di Manado, Indonesia, dengan akar yang kuat dalam kepemimpinan komunitas dan semangat terhadap pembangunan berkelanjutan. Dengan lebih dari satu dekade pengalaman sebagai Direktur dan Pimpinan Tim di perusahaan konsultan yang bergerak di bidang perencanaan kota, supervisi konstruksi, dan kajian lingkungan, ia telah memimpin tim multidisiplin untuk mewujudkan proyek-proyek yang selaras dengan tujuan klien sekaligus memenuhi standar lingkungan.

Di luar keahliannya secara teknis, Monika juga aktif terlibat dalam organisasi sosial, mencerminkan komitmennya yang kuat terhadap pemberdayaan masyarakat.

Sebagai Direktur baru Yayasan Gili Matra Bersama, Monika membawa visi strategis dan dedikasi untuk memimpin inisiatif konservasi laut dan pesisir yang berdampak di Indonesia.

Cenna

manajer program coral catch

Cenna adalah lulusan ilmu kelautan dari Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. DibesarĀ­kan di tengah hiruk pikuk kota metropolitan, rasa penasarannya membawanya untuk menjelajahi dunia laut, di mana ia kemudian membangun fondasi yang kuat dalam pemantauan terumbu karang, farmakologi kelautan, bioteknologi, serta konservasi lamun.

Dalam perjalanan akademisnya, Cenna meraih sertifikasi sebagai penyelam open water dan scientific diver. Pada tahun 2022, ia terpilih sebagai penerima Coral Catch Scholarship (Batch 2), yang semakin menguatkan komitmennya pada konservasi laut dan perikanan berkelanjutan. Sebagai manajer program Coral Catch, Cenna bercita-cita memberdayakan lebih banyak perempuan untuk menekuni karier di bidang selam, konservasi laut, dan perikanan dengan penuh percaya diri.

Di luar kiprah profesionalnya, Cenna memiliki kecintaan mendalam terhadap fotografi, minat yang telah ia tekuni sejak masa SMA. Ia bercita-cita menjadi fotografer dan videografer bawah air, memadukan kecintaannya pada visual storytelling dengan dedikasi terhadap pelestarian laut.

Wika

tim komunikasi dan pemasaran

Wika adalah mantan jurnalis sekaligus penulis yang lahir dan besar di Jakarta, Indonesia. Semangat petualangannya telah membawanya melintasi berbagai kota, mulai dari Surabaya, Jakarta, Depok, Belanda, Bali, hingga akhirnya menetap di pulau yang tenang, Gili Air.

Wika meraih gelar magister dalam bidang Women and Gender Studies dari The International Institute of Social Studies, Den Haag. Latar belakang profesionalnya mencakup peran sebagai jurnalis di VICE Media, spesialis komunikasi untuk berbagai LSM, hingga konsultan kreatif untuk Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta. Namun, kecintaannya pada konservasi laut mendorongnya untuk mengambil langkah besar dalam perjalanan kariernya. Ia terpilih sebagai penerima Coral Catch Scholarship (Batch #5), di mana ia memperdalam pengetahuannya tentang konservasi laut dan kini berkomitmen untuk melanjutkan ke Instructor Development Course (IDC) di masa mendatang.

Kinah

Manajer Program Konservasi dan Edukasi

Kinah adalah seorang pegiat konservasi laut yang berdedikasi. Berasal dari Bogor, sebuah kota yang dikelilingi pegunungan, namun hatinya selalu tertambat pada laut. Berbekal gelar Sarjana Ilmu Kelautan dari Universitas Diponegoro dan sertifikasi PADI Instructor, Kinah memadukan kecintaannya pada ilmu kelautan dengan komitmen terhadap keberlanjutan.

Kinah percaya bahwa bersama-sama kita dapat melindungi laut, sehingga setiap orang dapat merasakan momen-momen ajaib di bawah permukaan air.

Ivonne

Koordinator Riset & Lead Penyelaman Ilmiah

Ivonne telah menemukan panggilan hidupnya dalam bidang konservasi laut. Kecintaannya yang mendalam terhadap lautan telah membawanya pada sebuah perjalanan luar biasa, dimulai dari studinya di Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Mataram, tempat ia meraih gelar Sarjana Sains. Selama masa kuliah, Ivon sangat aktif dalam berbagai organisasi kampus dan bahkan pernah menjabat sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan.

Segalanya berubah ketika ia mengikuti program Coral Catch, sebuah pengalaman yang semakin menguatkan kecintaannya pada ekosistem laut, khususnya terumbu karang. Keterlibatannya dalam program ini menginspirasi Ivon untuk memfokuskan skripsinya pada terumbu karang, dengan melakukan penelitian di salah satu kawasan konservasi di Lombok.

Memilih jalan yang berbeda dari tradisi keluarganya, Ivon telah membuktikan bahwa bekerja di bidang konservasi laut bukan sekadar mimpi, melainkan sebuah cara hidup yang penuh makna. Jika dahulu ia bercita-cita menjadi seorang teknisi teknik, kini ia menemukan tujuan yang lebih besar: berjuang demi memastikan laut kita tetap terjaga untuk masa depan yang lebih baik.

TANIA

koordinator riset

Tania selalu menyukai berada di dalam air, yang secara alami membuatnya jatuh cinta pada lautan. Ia pernah bermimpi menjadi seorang ahli biologi kelautan, namun menyimpannya sendiri karena terasa tidak realistis. Hal itu berubah ketika ia menemukan program Ilmu Kelautan di universitasnya dan memutuskan untuk mencoba. Seiring ia semakin mendalami bidang tersebut, minatnya pada bio-ekologi laut dan konservasi tumbuh semakin kuat. Semangat ini membawanya pada kesempatan untuk melakukan penelitian elasmobranch di salah satu pulau terpencil di Indonesia.

Bergabung dengan Coral Catch menjadi titik balik dalam perjalanan Tania. Program ini membantunya membangun kepercayaan diri, mengasah keterampilan, dan membuka berbagai peluang baru, salah satunya adalah menjadi koordinator riset di Gili Matra, di mana ia kini berfokus pada proyek konservasi hiu. Pekerjaannya menggabungkan penelitian ekologi dengan keterlibatan masyarakat, memperkuat pemahamannya bahwa konservasi bukan hanya soal sains, melainkan juga tentang keterhubungan antara ekosistem, manusia, dan tujuan.

Mimpi yang dahulu terasa terlalu aneh untuk diungkapkan kini telah menjadi tujuannya. Tania kini berada di jalur menuju seorang ilmuwan konservasi laut, dengan komitmen pada penelitian elasmobranch serta konservasi berbasis komunitas yang inklusif di Indonesia.